Sebuah Perjalanan

Sebuah perjalanan. Perjalanan bukan lagi soal pergi ketempat yang kau tuju dan selesai sudah. Tapi dalam setiap jejak yang ditinggalkan, angin yang dihirup, dan tetes keringat yang meleleh. Sebuah perjalanan dengan sebutan terserah kalian, yang jelas perjalanan, kau pergi kemana saja yang kau kehendaki, bahkan tanpa tujuan. Kalau kuharap, aku dapat menemukan sebuah lubang, dan biarkan aku terperosok di dalamnya, kemudian aku hilang dan lenyap dari muka bumi ini. Dan saya bangun lagi lagu lagu masa kecil,mencari arti masa kecil kembali.

Ternyata ilmu pengetahuan yang saya terima tidak membuat saya paham akan lagunya sherina kecil, mengapa dunia berputar, mengapa air mengalir, ini makin meradang akibat tuntutan profesi dan pakem pakem dalam tingkat kenormalan yang memuakkan, sungguhpun dunia semakin memuakkan jika mengikuti jalan aspal selebar batas kurikulum saja. Kalau begitu biar saya lenyap dan bangun kembali di ladang ladang imaji yang saya buat. Sudah cukup lama terbentur pikiran soal kurikulum, sistem, norma, dan segala segala yang penuh teoritikal dan menyumbat moment eureka dalam diri saya. Terpetakan dan tidak lagi mencoba jatuh dan bangun lagi. Datar. Pada akhirnya terkurung pada rutinitas dan pikiran memuakkan, membuat saya lebih tertarik berteman dengan pak petugas perpustakaan kota yang sebagian genit dan sebagian galak. Maka, sebuah perjalanan itu menjadi neurotransmitter menanggapi ketidaknormalan dalam seorang diri dan kesatuan fungsi sebagai manusia. Saya tidak yakin saya dilahirkan menjadi manusia, dan krisis ini meradang tingkat lembaga agama. Saya tidak ingin disuguhkan oleh jawaban administratif penuh struktur ego pencapaian label kebenaran yang semena mena. Sudah semakin sedikit orang yang berbicara soal hal hal yang di dalam, kerucutkan menjadi nurani misalnya. Sampai ada sebuah istilah sekarang bukan lagi jaman ideologi, yang ada adalah jaman imagologi. Analoginya, casing lebih penting dari pada isinya. Tidak heran, post modern yang menitikberatkan aliran deras mengadu domba bagian bagian ritme perasaan yang kian artificial, tidak lagi natural. Ya, maka tidak heran. Maka tidak heran juga, jika saya selalu akan selalu menyalahkan zaman, pesimistik ini adalah sebuah sarang yang paling nyaman dalam menelurkan krisis, meraba puitis. Akhirnya, perjalanan itu bagi saya merupakan hijrah atas satu suasana menuju suasana yang lain sehingga saya dapat menghirup esensi hidup.

Tutup mata, tutup telinga, tutup pikiran, berendam dalam lendir maupun kubangan otak otak para leluhur, rebahkan sampai tertidur, ini hanya sebatas fiksi dalam mati yang diundur. 

 

Malang, 26 April 2012

Leave a Reply