Metafora

Bercita-cita itu apa? Kadang kala terlalu buram, dengan segala siraman kekhayalan tingkat tinggi, dengan segala ketidakmungkinan disana sini.

Hidup tanpa frasa dan metafora itu tidak indah, itu sebabnya orang orang melankolia akan lebih mudah mencapai karya yang fenomenal dari pada orang orang yang merasa baik baik saja. Banyak contohnya, dan kebanyakan dari mereka selalu mempunyai ego yang kurang sehat, jiwa yang tidak normal. Tidak, bukan kenormalan menurut standar orang orang normal yang dibahas disini. Ketidaknormalan terkadang terasa lebih normal daripada kenormalan itu sendiri. Maka seperti benar dan salah, normal dan tidak normal itu hak tertinggi dikedua tangan seoarang pemikir itu sendiri.

Karena sekarang saya yang sedang berpikiran sakit, maka ketidaknormalan akan sangat terdengar normal disini, hanya dikertas ini. Tidak merujuk referensi manapun, hanya berdasarkan kenyataan yang ada dan jalan yang tersedia. Tidak normal kan? Tapi dapat dibuat kedengaran normal dengan sentuhan sentuhan reaksi  mimpi dileburkan dengan fiksi, maka jangan heran akan menjadi sebuah kejadian yang nyata. Bahkan semua yang ada didunia ini, sebuah tingkat kenyataan yang masih perlu dibahas dan dipertanyakan, berawal dari reaksi mimpi dan fiksi. Bukankah begitu? Namun, sayangnya banyak manusia tak mengindahkan itu, mereka hanya mengakui sedikit dari kejadian yang mengubah hidup mereka, seperti teori relativitas, seorang Albert Einstein yang dapat melihat sebuah peradaban dari jatuhnya apel merah. Nah itu apa namanya? Dunia memang sudah saling balik membalik, jaman sekarang orang gila dianggap waras dan orang yang waras akan mudah disangka gila. Bukan rahasia, untuk membedakan mana yang harus benar dan salah, mana yang harus normal dan tidak normal, mana yang harus ini dan itu, akan sangat susah sekali sebagai manusia jaman sekarang untuk melakukan hal hal yang berbau keputusan. Lembaga agama dan negara saja tidak menjadi cukup untuk hidup berdampingan. Mungkin akarnya akan lebih runyam bila dikaitkan formula dengan reaksi mimpi ditambah fiksi, hasilnya menjadi kenyataan. Itu jalan pikiran yang sakit. Pertanyaannya adalah, bisa tidak metafora membuat hal hal tersebut menjadi dapat bersahabat dengan orang. Apakah metafora butuh kepalsuan yang melebih lebihkan? Sebenarnya bukan itu esensi dari metafora, metafora hanya menjelaskan kejujuran dengan bahasa yang indah. Sesuai dengan sifat aslinya yang sering dipandang sebelah mata, metafora memang tidak sejujur ironi atau paradoks, mereka semua adalah hal yang berlawanan, suka menghantam dari jalur arus yang berbeda dan selalu dengan perasaan yang deras. Sedang metafora mencoba menyederhanakan itu semua dengan penyampaian yang dapat diterima oleh berbagai pihak. Metafora sebagai penetralisir barangkali, dapat menormalkan ketidaknormalan.  Bayangkan betapa keringnya manusia tanpa air sumber peradaban, betapa keringnya kehidupan tanpa metafora.

Malang, 28 April 2012

Leave a Reply