Ada Ruang Yang Bernama Kesendirian

Suatu malam yang syahdu, saya pergi melipat mimpi. Kemudian jadilah serupa pesawat-pesawatan yang siap diterbangkan. Untuk menerbangkan, saya perlu menaiki bukit kecil di belakang pekarangan. Setidaknya mencari hembusan angin yang deras, agar pesawat-pesawatan itu dapat ikut arus angin entah kemana. Kujumpai bulan dan ia hanya diam menatapku dengan lirih.

Bicara mengenai cara memang berupa rupa. Sebuah kerumitan yang tiada henti dari hidup, mau berkilah apa? Begitulah. Hendak kemana arah pembicaraan ini, saya juga tidak mengerti. Tapi malam ini sama dengan malam itu. Malam itu pun saya tak bermaksud melipat mimpi kemudian menerbangkannya entah kemana dihadapan bulan. Malam ini juga demikian. Pikiran digerakkan apa, jari maunya mengetik bagaimana, dan hati entah melayang kemana, jadilah halaman ini yang penuh pilu.

Sudahlah metamorfosa tidak mungkin berjalan baik-baik saja. Ada banyak cara untuk pergi ke amerika kata Bimbo. Mungkin malam ini adalah cara untuk bertransformasi dari satu pikiran ke pikiran lain. Dari satu kalimat ke kalimat lain. Dari satu hati ke hati lain. (lho?)

Begini, akhir-akhir ini ada banyak hal yang terlintas. Saya seperti baru hidup sekitar tiga tahun yang lalu ketika saya menemukan ruang bernama kesendirian. Tembok-temboknya mungkin gelap, tapi saya temukan cahaya yang menemani saya hingga ketika saya keluar dari ruang tersebut, jadilah saya yang sekarang. Yang tak seorangpun dapat memahami saya. Ruang tersebut kini entah sering berada dimana, karena banyak hal gesekan kanan kiri, saya semakin jarang menemukan ruang tersebut. Beruntung malam ini, saya temukan ruang itu dan terlepaslah kerinduan yang sedemikian abstrak untuk diceritakan.

Aneh untuk didefinisikan sebuah ruang bernama kesendirian itu. Mungkin visualisasinya semacam kamar kebutuhan dalam film Harry Potter and the orde of phoenix, novel kelima nya bu Rowling yang paling favorit bagi saya.

Serangkaian usia 18 tahun telah saya lewati. Jadi anak kuliahan dengan berbagai macam identitas juga pernah mampir. Misalnya jadi bagian dari jurnalisme kampus yang memuakkan, saya putuskan lepas tangan gak jelas setelah ikut proses di dalamnya. Padahal berita yang saya tulis juga sering dimuat di buletin. Lalu apa yang buat saya memilih hengkang pada rintisan karir yang belum ada seumur jagung itu? Kurang beberapa tahap saya dapat kartu pers mahasiswa juga. Tapi begitulah metamorfosa yang tidak mungkin berjalan baik-baik saja.

Ada lagi beberapa waktu yang lalu saya krisis identitas besar-besaran diantara benih-benih seniman. Jelas ada semacam cultural shock dalam the way of life nya saya dan mereka. Sebuah grup seni drama saya tekuni, tapi justru ketika saya berada di luar lingkaran mereka, saya lebih bisa menggunakan kacamata yang lebih sehat daripada berada pada aliran yang saya paksakan.  Intinya, bukan pada mereka, tapi ada pada saya yang belum pintar mengintegrasikan suasana diluar yang begitu liar dengan apa yang ada di dalam diri saya. Andai saya punya keahlian berimprovisasi lebih, mungkin jam segini saya masih belum pulang ke rumah karena masih berada pada lingkaran orang-orang seni yang seperti kelelawar. Ternyata bukan disana memang saya seharusnya. Ada begitu banyak hikmah dari perjalanan kemarin.

Menjadi remaja yang berkawan baik dengan buku sampai-sampai dicap anti sosial pun juga pernah saya lakoni. Berdiam di perpustakaan. Membuat tugas kuliah tepat waktu, menyiapkan presentasi dan tampil dengan hebat di depan kelas. Berpendapat hal hal yang absurd dan sangat tidak relevan dengan topik pembicaraan dalam diskusi kelas. Malu sekali rasanya ingat ingat sok idealis seperti itu.

Flashback perkumpulan, club, UKM setahun perjalanan menjadi mahasiswa ini merupakan time line yang dapat saya rasakan baik buruknya. Setiap hal punya dua sisi mata uang yang berbeda. Baik dan buruk. Untung dan rugi. Dan tidak ada yang perlu disesali, barangkali cuma minta dinikmati. Itulah sebuah perjalanan. Menemukan jurang tanjakan semak semak akar belukar.

Belajarlah dengan sabar, Berjalanlah dengan tabah

Sebuah catatan kaki kecil ketika saya menyempatkan diri bermain-main mengunjungi alam. menatap awan dari atas bukit. Sejauh pandang kulepaskan. Belajar pada hal hal yang diskenariokan Tuhan, dan kita hanya bagian dari pertunjukan yang dibuat oleh Nya. Maka, Jalani saja lakon yang kita punya. Beruntung bisa punya peran sebagai manusia. Kita sendiri sebagai manusia yang dapat menentukan watak karakter terhadap pertunjukan demi pertunjukan. Artinya, kita punya kendali kemudi penuh terhadap apa yang kita harapkan, kehendaki dan ingin kita wujudkan. Bagaimana dengan peran takdir? Sungguhpun takdir terlalu luas untuk dicerna dalam satu kali penghayatan di ruang kesendirian ini.

Dalam moment-moment akhir usia delapan belas ini ada banyak chaos yang singgah. Perkara hati yang menjadi jadi. Jelas ini bukan soal kecil, karena.., ada yang belum bisa terungkap dengan pisau kata-kata yang menelanjangi rasa. Orang bilang itu cinta. Barangkali cinta memang indah. Tapi ketika cinta sudah harus dihadapkan pada hubungan, keadaan, dan kehidupan, bakal jadi rumit merumuskannya. Seperti kisah-kisah dalam begitu banyak buku yang telah saya santap, seperti kisah-kisah dalam begitu banyak film yang telah saya lahap, seperti harmoni-harmoni indah yang terdengar begitu sedap.

Tapi saya selalu yakin, hal hal semacam itu adalah anugrah. Karena banyak sekali hal-hal tak masuk akal justru dilatarbelakangi oleh yang bernama cinta itu. Rumit bukan?? Yang jelas saya sedang memendam rasa. Menantikan datangnya seorang laki-laki pemalu bermata senja yang tak kunjung tiba. Berharap rasa itu menjadi asa yang menjadi nyata. Setelah itu? Ya, kami tentu akan berbahagia happily ever after. Drama yang singkat dan pasti diharapkan banyak orang.

Begitulah ruang kesendirian ini dapat memunculkan banyak hal yang sulit terdefinisikan. Beruntung sekali malam ini, ruang itu ada untuk menampung hal-hal macam begini. Ruang itu dapat membahasakan banyak hal pada waktu tertentu. Tidak di semua waktu. Maka, semoga esok saya masih dapat menemukan ruang ini. Meski saya tahu tidak semudah itu bertemu dengan ruang kesendirian itu. Tiada ketakutan disana karena ada cahaya yang membahasakan berupa-rupa kebahagiaan, kesedihan, kegetiran dan kekosongan.

 

Malang, 21 September 2012

Leave a Reply