Objektifitas (Tidak) Selalu Benar

Benar juga apa yang dikatakan seorang dokter di sebuah ruang kelas yang gelap “Psikoanalisa adalah proyek yang belum selesai”. Terdengar begitu akademik, ada dokter, kelas, dan suatu mata kuliah. Dan jendela dengan tralis khas rumah sakit jiwa.

Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia akademis, sebenarnya. Ada banyak mimpi buruk selepas menanggalkan jenjang sekolah yang semakin tinggi, justru hal tersebut semakin klise dan berjarak dengan tanah realita. Mimpi buruk serta kekhawatiran yang membikin jaringan stressor-stressor menegang waspada. Itu sebabnya hari ini kita meragukan suara-suara hati kecil yang dulu setia menemani hari-hari kita dengan begitu menakjubkan . Kemudian kita harus menuruti suara-suara dari luar sana yang meminta kita untuk mendaftar pegawai negeri selepas lulus kuliah, cari pekerjaan paruh waktu agar bisa mengurus anak, dan juga menuruti saran teman untuk tidak menikah dengan pujangga, melainkan kalau bisa menikah dengan pengusaha saja.

Kembali, kita mungkin akan menjadi gentar dan tumbang jikalau kehidupan selalu diikuti oleh sisi-sisi yang kejam. Semakin tidak berdaya memerangi hegemoni yang mengangkangi khazanah wawasan mental. Zaman mengharuskan manusia untuk menjadi kaya, menjadi cantik dan tampan, menjadi menderita dan penuh kecemasan. Terutama peran-peran corong industri kapitalis yang menelaah mentah-mentah kebutuhan artifisial. Tidaklah mengherankan bahwa wujud manifestasi objektifikasi  telah membanjiri di segala lini, seperti para pengajar di perguruan tinggi yang begitu pragmatis, para pemimpin yang berorientasi pada kebijakan yang tidak etis, serta para remaja tanggung yang mudah jebol lantaran kewalahan tidak dapat mengelola corak-corak kebutuhan erotis. Betapa manusia saat ini telah menasbihkan diri sebagai homo hominus lupus yang tanpa sungkan mencakot bagian tubuh manusia lainnya, dengan alasan mewujudkan kesuksesan melalui desain-desain persaingan  berlandaskan asas-asas efektivitas dan produktivitas.

Kita tidak lagi seintim dahulu kala. Karena realita yang menyakitkan sudah tiba di depan mata. Manusia menjadi takut tua dan renta hanya karena khawatir diabaikan oleh zaman, padahal tidak akan ada keabadian di dunia ini. Segala obat hanya membuat kita mual dan bersifat tidak antesedan. Penuh kepura-puraan lalu sisa hidup ini hanya dihabiskan untuk melayani tuntutan-tuntutan yang sebenarnya tidak perlu, seperti biasa kita tidak dapat mengelak dari alur yang membikin aturan main sebegitu mahal, sehingga tak dapat ditawar.

itulah mengapa segala definisi kesuksesan tidak lagi berbanding lurus dengan ancang-ancang pendidikan. Lalu lalang peristiwa berkesan dalam hidup, hanya kita maknai sampai tumpuan realita nir-sadar yang tak lagi mampu menjembatani antara dunia di dalam diri kita dan dunia yang sesungguhnya (realita). Oleh karenanya, dengan menjadikan objektifitas sebagai pisau untuk memahami diri sendiri di segala sisi, justru membuat manusia kehilangan cara untuk memanusiakan manusia itu sendiri.  Objektifikasi merendahkan martabat manusia dengan kelas-kelas yang ditentukan oleh  pemukulan rata standarisasi, tidak mengkehendaki keberagaman, dan memandang manusia seolah hanya seperti kelihatannya saja, sehingga kita harus bersiap untuk lelah dengan mekanisme diri yang defensif.

Entah dari mana datangnya teori-teori subjektivitas dan objektifitas. Lantas kita akan selalu merasa sendirian, dianggap tidak konsisten karena melayani subjektivitas. Padahal itu hanya sebagai upaya serta cara untuk memandang manusia lain sebagai manusia yang sebagaimana mestinya adalah utuh, tanpa perkecualian. Tanpa peristiwa bunuh-bunuh-an, tanpa diskriminasi yang berbau SARA, tanpa berorientasi pada matrealisme dan perhitungan untung rugi. Tidak semua dari kita memang berani untuk bertaruh soal idealisme, sederhananya karena urusan perut belum terjamin adanya.

Sayang sekali usaha-usaha itu  hanya akan dijalani orang-orang yang merasa masih meneguhkan idealitas di titik nadir yang diagung-agungkan. Barangkali segelintir orang-orang yang pernah tertulis sejarah seperti Freud, Jung, Pramoedya Ananta Toer, Soe Hok Gie, Tan Malaka dan semua idola-idola yang menginspirasi kehidupan kita itu, mereka yang memilih untuk mengeksperimenkan jati diri melalui dinamika yang penuh dengan bahaya. Mereka mengukir subjektifikasi dan mengorbankan diri sendiri untuk siap mati kapan saja demi menyelamatkan sebait dua bait pandangan hidupnya.

Kembali berjarak antara apa yang kita bahas dan contoh-contoh di atas. Haha. Lantas kemudian bersiaplah karena orang-orang di sekitar akan mencibir pandanganmu yang semakin ruwet dan merambah pemikiran irasional. Mengejek dan mematahkan idealismemu dengan  sinar mata yang penuh luka batin.

Pada akhirnya kita akan sama-sama terluka, karena selepas tulisan ini berakhir, kita kembali menghadapi realita yang objektif tanpa toleransi kesalahan. Kita menyebut diri kita sendiri sebagai seorang pecundang yang ternyata tidak jadi berangkat menuju  medan perang.

 

Malang, 18 Maret 2014

Leave a Reply