Roman Ketiga

Hari ini adalah hari yang kurang baik untuk menjelajah pada dunia imajinasi serta metafora picisan. Kita tahu itu, segala yang artificial menjadi pusat perhatian segala puja-puja. Bahkan dewa-dewa sekalipun sedia turun tangga, tidak lagi berada di tingkatan ke tujuh lapisan atmosfer alam semesta. Melainkan, sekarang kita semua sederajat berada pada di ketinggian yang sama, antara manusia dan dewa, antara manusia yang didewakan dan dewa yang dikutuk menjadi manusia. Antara manusia, dewa dan aku yang bukan siapa-siapa.

Mungkin kita sedang berdosa pada malam hari ini, dimana aku kelayapan di luar rumah, berduaan bersama kamu yaitu seorang lawan jenis berkarakter sedikit kaku. Aku jadi ingat lagu semasa kanak-kanak yang berbunyi “boleh dua duan, asal tengok kiri kanan. Tapi awas jangan pergi sendirian, kata nenek itu berbahaya”. Tapi toh kita hanya pergi saja, menyusuri jalanan aspal yang basah, dan tidak ada perebutan paksa keperawanan satu sama lain. Paling-paling hanya saling menghangatkan sebelah telapak tangan dengan sebuah gandengan.

Sudah itu saja kontak fisik yang kita lakukan. Tetapi, tetap saja orangtua-orangtua kita pasti akan menutup sebelah mata, dengan dalil bukan muhrim sebagai bentuk ketakutan datangnya pihak ketiga yang bernama setan. Setan ada dimana-mana, sebagaimana aku percaya malaikat yang hadir tidak hanya pada pencatatan amal baik dan buruk, melainkan juga pasti tidak alpa kehadirannya pada suatu situasi yang biasa disebut berkah.

Tenanglaaah, kami berdua hanya mengobrol.

Memang malam ini kita tidak sedang sendirian di jalanan yang mulai sepi. Ada setan, ada malaikat, ada juga dewa-dewa dan segelintir manusia yang tidak jelas berseliweran. Aku tak begitu memperhatikan dengan jelas siapa segelintir manusia di sekitar kita, karena mereka semua sama tak jelasnya dengan makhluk-makhluk lain di dunia ini. Yang paling jelas adalah tentang perjalanan kita oleh malam yang pekat dan aspal yang basah. Serta lelucon-lelucon kuno yang menjangkiti arus obrolan kita, dengan terpaksa dapat mencairkan suasana.

Terpaksa atau tidak terpaksa, aku sebisa mungkin akan tertawa. Sebagai bentuk luapan kebahagiaan yang tiada tara. Bagaimana tidak, bisa bergandengan tangan seperti ini saja adalah serupa dengan pencapaian angan-angan dan harapan sederhana yang hanya tiba di lukisan sebuah khayalan. Akhirnya kita bisa jumpa.

Apalagi yang lebih bahagia ketimbang mendengarkan tiap tiap dari kita bercerita? Kamu masih terlihat sama dengan sisa sisa remaja yang memompa energi masa muda. Dan aku selalu mendengarkan dengan seksama tentang ceramahmu yang sibuk mencari padu padan makna tentang apa arti dari segala hal yang tak terdefinisikan. Misalnya, sebuah kebebasan. “Bahwa kehidupan ini adalah berisikan penderitaan” itulah poin pertama yang kamu berikan kepadaku. “ Sehingga untuk mencapai kebebasan adalah sebuah kemustahilan, karena kebebasan itu sendiri merupakan ambivalensi dari ketakutan manusia terhadap aturan. Perihal soal kehidupan yang begitu ironi, kebebasan bisa digunakan sebagai cermin dimana penderitaan itu dapat memantulkan segala penglihatan yang tak dapat kita lihat”

Aku kembali merenung. Ada perasaan yang tidak dapat kupahami mendengar penjelasanmu soal kebebasan. Itukah yang menyebabkan hidupmu tanpa batas? Aku mengerutkan dahi.

“Kita hanyalah manusia, meyakini sebuah ceramah kebebasan yang baru saja aku lemparkan adalah sama dengan kamu mempercayai takhayul. Kebebasan hanya terletak pada angan-angan dan itu tidak lebih dari batok kepala kita yang mengurungnya dalam pagar surgawi yang omong kosong” Begitu katamu sambil terbahak. Aku tidak mengerti.

Engkau bilang kebebasan adalah hal yang sangat sulit dipahami, itu sebabnya kamu berhasil membuatku menjadi rumit se-rumit konsep kebebasan yang sedang kamu tanamkan sebagai doktrin.

Aku angkat bahu soal tukar menukar makna kebebasan. Kita berbicara yang lain saja. Barangkali soal cinta, aku menawarkan. Kukira kita sedang saling jatuh cinta hingga bisa jalan berdua mesra di tengah malam yang makin gulita. Getaran-getaran emosi yang datang dari antah berantah itulah yang mungkin menjadi berkah bagi sepasang anak manusia. Tapi ternyata kamu punya makna berbeda terhadap apa itu yang disebut cinta.

“Cinta lebih rumit lagi daripada soal kebebasan. Apalah arti cinta bagi anak-anak baru puber seperti kita? Dia lebih tak terbatas daripada sekedar emosi dan perasaan. Juga dapat didefinisikan lebih daripada sekedar monumen Taj mahal atau romantisme kisah Romeo-Juliet, Rangga-Cinta atau Rama-Sinta. Cinta adalah sampah jika hanya berarti sampai disitu” Kamu berkata sambil mulai mengebul-kebulkan asap melalui sebatang rokok yang nikmat kamu hirup.

Kamu selalu begitu. Membuatku tenggelam dalam dimensi-dimensi yang tak dapat kutemukan pada realita di sekitar kita. Aku menjadi berbeda. Kemudian kamu menjatuhkanku dalam dunia yang hanya berisi segala kegundahanmu, sehingga aku ikut-ikut an menjadi resah. Setelah itu adalah gelisah, kita sama-sama menjadi sangat kerdil untuk sekedar bahagia dengan tertawa. Menertawakan dunia kita sendiri yang terlalu gundah untuk dicapai dengan kebebasan dan cinta, rasanya susah sekali menjalani kehidupan yang sudah berat.

Kita akhirnya adalah sepasang dinamo pesimistis. Mungkin tidak cukup seimbang untuk menjalani sebuah hubungan dalam kesederhanaan. Tiba-tiba keesokan harinya, kamu pergi bersama ide-idemu soal kebebasan, cinta dan percakapan kita malam itu. Tapi rupanya kamu sengaja membuatku semakin sengsara dengan meninggalkan sebuah bencana. Segala resah itu beserta kerumitan yang panjang , sengaja kamu letakkan di atas meja makan, di samping teh dan roti tawar.

Entah kamu pergi menuju kemana. Apakah menuju persinggahan di lain hati? Ataukah kamu lebih memilih untuk berlari ke India dan menenggelamkan diri di sungai Gangga?  Tentu mudah saja bagimu untuk mengatakan kebebasan yang omong kosong, sementara cinta adalah sampah. Dengan demikian mudah juga jalanmu untuk mengencani semua perempuan di dunia ini, dan membuat luka tak terperi di dasar palung hati.

Maka aku bisa menarik kesimpulan, janganlah membikin ekspektasi  terlalu tinggi terhadap 3 hal. Pertama,  pada suasana tadi malam dengan aspal basah setelah hujan. Kedua, segala percakapan tadi malam yang mestinya hanya bisa berlangsung di surga. Ketiga, pengkultusan romantisme yang hanya akan bermuara pada bencana. 

Malang, 27 Maret 2014

Leave a Reply