Realistis

Adakah sebuah upaya realistis hanyalah diperuntukkan pada dunia materi belaka? Mengingat, realistis dan materialistis agaknya berbeda begitu tipis. Keduanya berdekatan tapi tak sama, serupa dipisahkan sebuah garis yang tak pernah pasti wujudnya.

Terkadang kita bingung membedakannya, antara realistis dan materialistis. Sebagai manusia, nilai-nilai menanamkan bahwa segala yang berlebihan akan membimbing pada keserakahan dan tak jarang berakhir pada kenistaan belaka. Itulah mengapa seseorang mungkin tidak pernah benar-benar menjadi realistis. Jika tidak terlanjur menjadi materialistis yang bengis, berarti Ia adalah seorang pengkhayal dungu yang tak berani menginjakkan pada kenyataan realita alias seorang utopis. Yang manakah Anda? Namun kiranya klasifikasi ini jangan terlalu dianggap serius. Hanya lelucon saja.

Kalau dahulu saya sinis, serta mengutuki bahwa realistis adalah sempit. Energi dan ambisi yang memenuhi ruang ruang pasti, menjadi tidak asik, tak ada ledakan-ledakan yang tidak terduga, tak ada kejutan. Kini sebaliknya, saya mengagumi realistis.

Realistis adalah sebuah keterampilan mencapai tujuan. Ia tetap berada pada suatu jalan yang menguji niat awal. Meski ditawari kelebihan, ia akan tetap setiap pada tujuan pertama, sebelum mencoba merumuskan tujuan berikutnya. Dibalik tawaran-tawaran yang menggiurkan di masa depan, di belakang itu semua tetap terdapat unsur-unsur kegigihan yang melatari sebuah kesuksesan pencapaian. Realistis adalah pencapaian yang cukup, tidak berlebihan.

Kiranya realistis tidak melulu soal materi, meskipun semua setuju bahwa tak seorangpun memungkiri harta benda sebagai upaya menyejahterakan diri dan keluarga. Hanya saja, arah trend  yang menggerakkan materialisme menjadi sorotan yang gemerlap kilau-kilau dan membuat keduanya kacau balau. Sehingga antara realistis dan materialistis menjadi bias nilai dan disorientasi posisi. Itukah yang membikin anak-anak krisis identitas di seluruh bumi tak pernah realistis dengan mimpi-mimpi mereka?

Padahal, menjadi realistis tidak selalu menjegal konstruksi-konstruksi cita-cita dan mimpi. Optimis dan pesimis itu soal lain, kalau itu soal seberapa percaya harapan-harapan itu tumbuh menjadi kekuatan yang mewujudkan.

Walaupun kita tidak dapat memungkiri konsekuensinya, bahwa realistis akan menyandera sebagian jiwa-jiwa yang bebas. Jiwa-jiwa yang terbiasa tanpa perhitungan logis antara aksi sama dengan reaksi. Menyandera kesetiaan pada lotre dan angka dadu di atas papan judi. Barangkali iya, realistis akan melumpuhkan sisi sisi imajinatif yang kian destruktif oleh kenyataan yang pahit. Sehingga, tidak ada ruang bagi kita untuk beradu khayalan, bahkan bergurau dengan nasib-pun enggan. Keberanian untuk menghadapi hidup yang liar menjadi pudar.

Tetapi kita hidup punya tujuan, realistis hanyalah salah satu kendaraan yang dapat mengantarkan. Jika engkau nyaman berjalan, memutar balik kemudi, tak jadi masalah. Kita akan sama-sama bertemu di  ujung jalan yang sama. Sampai jumpa.

 

Malang, 26 Desember 2014

Leave a Reply