Catatan Kreatif #2: Konstelasi Belajar Psikoanalisis

Yang saya pahami, Psikoanalisis punya porsi yang cukup dominan untuk mengamati tentang bagaimana sebuah keterhubungan itu terjadi. Sekalipun keterhubungan itu begitu rumit, tentang bagaimana manusia punya hubungan dengan objek di masa kecilnya, yang kemudian juga terpolarisasi pada pola hubungan di masa tumbuh kembang remaja hingga dewasa. Rangkaian pola pola itu tumbuh menjadi begitu rumit seiring dengan tumpang tindihnya pengalaman, bagaimana memori terus merekam segala kejadian dan perasaan terhadap berbagai macam hal yang identik dengan suatu makna.

Bagaimana cara otak bekerja itu sendiri dapat terjelaskan melalui berbagai macam teori; mulai dari bidang keilmuan biologis sampai neurosains, tetapi belajar tentang dinamika kesadaran yang penuh dengan simbol-simbol dan perumpamaan agaknya lebih menarik minat saya. Sudah berulang kali saya sudah perumpamakan bahwa menyelami kesadaran manusia melalui cabang ilmu Psikoanalisis adalah serupa petualangan imajiner yang cukup menantang. Apalagi, jika berhasil menjelajah sinematika alam bawah sadar, sungguh adalah suatu kesempatan gemilang untuk dapat melihat diri kita yang primitif. Dan kemudian tidak jarang, dari sana lah kita mendapatkan suatu pemahaman yang bersinergi antara pikiran (kognitif), perasaan (afektif) dan perbuatan (konatif).

Sepanjang saya mengenal Psikoanalisis, sepanjang itu pula timbul suatu hasrat yang otomatis mendorong keinginan saya untuk mejelajah diri saya sendiri. Ada efek samping yang timbul dari kegiatan sedemikian rupa, diantaranya saya menjadi sangat peka untuk mengamati sebuah pola, di sisi lain sebenarnya saya juga menjadi pribadi yang (mungkin) over-thinking. Entah mengapa saya menjadi butuh untuk memasang laju kendali atas kesadaran saya sendiri untuk tidak terlalu melayani tindakan yang ingin mengetahui segala hal di dunia.

Pun juga akhirnya timbul bermacam pertentangan yang timbul. Begini, ini hanya perumpamaan, mungkin belajar Psikoanalisis mengantarkan saya seperti seorang yang dibuka mata-nya oleh suatu ilmu supranatural. Nah, ketika suatu ilmu itu menguasai diri dan tidak ada kontrol remot kesadaran untuk mengembalikan diri pada posisi netral, alih-alih saya menerapkan cara hidup terapeutik, yang ada saya menjadi bertambah neurotik.

Praktik Psikoanalisis yang saya maksudkan tidak lebih dari sebuah brainstorming atau kontemplasi di hadapan diri sendiri berdasarkan beberapa pemahaman yang saya dapatkan dari suatu workshop klinis Psikoanalisis. Barangkali saya juga sudah harus menyadari bahwa praktik Psikoanalisis pada diri sendiri juga mengantarkan pada suatu resiko tentang meningkatnya kadar kecemasan atau bahkan menjadi pribadi yang makin melankolik. Begitulah resiko bermain-main dengan metode yang sebenarnya harus berada di bawah suatu pendampingan oleh orang lain.

Hingga pada suatu titik saya lelah berhadapan dengan diri saya sendiri, dan kemudian teringat bahwa sebenarnya ujung dari praktik Psikoanalisis tersebut: adalah menelusuri pribadi diri untuk mencapai pemahaman yang kontekstual sehingga muncul suatu penerimaan yang dapat menjadi pangkal perspektif seseorang untuk menjalani kehidupan lebih lapang.

Sejujurnya, ketika saya berhadapan dengan suatu memori yang cukup intimidatif, saya masih sering merasa bahwa ketidakharusan itu perlu dihilangkan. Betapa susahnya mencapai suatu titik penerimaan terhadap diri sendiri, sekalipun kita semua sudah saling tahu bahwa apa yang dapat dilakukan seorang manusia selain berdamai dengan dirinya sendiri?

Saya kembali teringat kata dokter saya dulu, bahwa Psikoanalisis adalah projek yang belum usai. Hal ini jualah yang mengantarkan saya untuk mengeksplorasi kegiatan analitik secara bebas, tidak terbatas pada suatu kaidah teori tapi juga secara praktik di kehidupan sehari-hari. Jika ini bisa menjadi suatu cara hidup yang lebih adaptif untuk memerangi hegemoni modernitas, saya rasa Psikoanalisis memang perlu diterjemahkan menjadi bentuk-bentuk yang lain, yang mana sifatnya lebih praktis dan detail, sekalipun prosesnya tidak instan.

Entah kita mungkin bisa jumpa di ruang ide eksploratif selanjutnya.

One thought on “Catatan Kreatif #2: Konstelasi Belajar Psikoanalisis

Leave a Reply