Surat Untuk Pak Limas

Selamat siang Pak Limas,

Pak Limas, saya menulis email ini sebagai seorang murid yang pernah Bapak ajar di kelas Psikoterapi, sewaktu kuliah di jurusan Psikologi, Universitas Negeri Malang, beberapa tahun yang lalu.

Sesungguhnya, saya ingin mengucapkan banyak terimakasih pada Pak Limas, yang telah mengenalkan Psikoanalisis dengan pendekatan filsafat, yang membuat saya selalu terkesan dan antusias atas kelas-kelas Psikoterapi yang saya hadiri. Sekalipun saya sudah lulus dan menjadi sarjana Psikologi, saya tetap masih cukup antusias belajar Psikoanalisis, baik secara mandiri, terkadang mengikuti workshop dari IDI, serta juga diskusi-diskusi informal lainnya.

Dua tahun belakangan saya begitu berusaha untuk mencari akses menempuh pendidikan Psikoanalisis secara formal melalui beberapa program beasiswa oleh pemerintah dalam dan luar negeri. Tapi rupanya, banyak hal yang terjadi, yang kemudian membuat saya selalu merevisi perihal mengapa saya butuh untuk belajar Psikoanalisis dan bagaimana bentuk kontribusinya pada masyarakat luas.

Pada akhirnya, saya menyadari, bahwa minat saya pada Psikoanalisis adalah bagian dari cara saya untuk mempertajam kemampuan bahasa pada kapasitas saya sebagai seorang penulis. Tapi untuk menjadi seorang klinisian? Sesungguhnya, untuk sekarang ini saya lebih ingin fokus untuk berkarir di bidang riset dan kepenulisan, tapi entah suatu saat nanti, mungkin perencanaan hidup bisa saja berubah. Dan, barangkali tahun ini saya harus memutuskan untuk sejenak berhenti mendaftar program studi Psikoanalisis, dan lekas mengambil langkah realistis untuk mengembangkan karir saya sebagai seorang akademisi Psikologi Sosial (dengan peminatan Indigenous Psychology) di kemudian hari. Serta, sejauh yang saya mampu, saya hanya dapat merefleksikan apa yang telah Bapak ajarkan melalui beragam esai-esai yang saya coba tuliskan sesuai pemahman saya pribadi. Kalau Bapak berkenan, bisa melihat tulisan-tulisan yang telah saya buat di website pribadi saya: https://mutiaavezahra.com/tag/psikoanalisis/ . Harap maklum jika mungkin ada perihal yang kurang tepat.

Sebenarya, jauh di lubuk hati saya yang paling dalam,  Psikoanalisis punya makna yang cukup signifikan bagi diri saya secara pribadi. Sepanjang belajar Psikoanalisis, ada berbagai macam temuan pada diri saya yang berdampak pada bagaimana saya memahami apa yang terjadi pada diri saya sendiri. Meskipun, ada beberapa efek samping yang muncul dan tersadari saat belajar ilmu Psikoanalisis, di luar memenuhi tuntutan kewajiban perkuliahan. Terkadang, saya merasa seperti auto-analisis dalam menghadapi suatu hal, beberapa contoh kasus seperti perihal pengalaman jatuh cinta dan patah hati. Tapi belakangan, saya mencoba untuk lebih bijak terhadap apa-apa yang saya hadapi dengan cara melakukan percakapan dengan diri sendiri dan mencurahkan segala yang terlintas dalam benak. Entahlah, saya merasa banyak hal yang mempengaruhi diri saya semenjak berkenalan dengan Psikoanalisis.

Ada satu nomor esai yang saya khususkan sebagai sebuah memoar perjumpaan Psikoanalisis di kelas Bapak. Berikut saya bagikan link-nya: https://mutiaavezahra.com/tag/psikoanalisis/. Saya merasa perlu menulis email ini kepada Pak Limas, sebagai bentuk terimakasih dan apresiasi atas ilmu yang pernah Bapak ajarkan, juga ini adalah sebentuk perdamaian bagaimana saya mencoba untuk menyelaraskan antara realita saat ini dan kegagalan ambisi saya untuk bisa menempuh pendidikan Psikoanalisis secara formal.  Semoga dasar-dasar keilmuan Psikoanalisis yang pernah Bapak ajarkan di ruang kelas atau workshop, dapat saya praktikkan dalam proses kreatif saya sebagai seorang penulis, serta juga bisa membentuk saya menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam menghadapi segala persoalan kehidupan.

Betapapun saya sedang dihadapkan pada kebuntuan demi kebuntuan, saya masih tetap menyimpan semangat belajar Psikoanalisis yang pernah Pak Limas tularkan. Sungguh tidak ada ungkapan, selain rasa syukur saya pernah mengenyam proses belajar Psikoanalisis dan Psikoterapi di kelas Pak Limas. Semoga Pak Limas sehat selalu dan terus bisa mendistribusikan pengalaman dan karya Psikoanalisis untuk banyak orang. Amin.

Salam hangat,

2 thoughts on “Surat Untuk Pak Limas

Leave a Reply