Bagaimana Rupa Rasa Lapang

Seorang teman baru saja pulang dari negeri nun jauh di Eropa. Diantara beberapa oleh-oleh yang dibawanya, terselip sebuah kartu pos dan beberapa penggalan kalimat menyentuh yang Ia tulis saat berada di kota Hamburg. Di kartu pos lainnya yang bergambarkan kota Praha, Ia menulis bahwa suatu saat saya harus ke sana. Kemudian ingatan saya menerawang beberapa tahun yang lalu, tentang sebuah janji-janji masa muda yang begitu menggairahkan.

Masa sekolah menengah, saya dan teman saya itu memang gemar membaca novel-novel karya Andrea Hirata. Begitu dalam kisah-kisah Ikal, Enong, Mak cik Maryamah menggaung di dua kepala remaja putri tanggung yang sedang mencari jati dirinya. Mungkin benar, generasi saya pun kebanyakan adalah korban sandera mimpi-mimpi versi Andrea Hirata, yang menyebut kesuksesan dengan definisi sebagai berikut: suatu pembuktian dengan cara menjadi bagian dari negara maju; entah hanya sekedar berkunjung atau memang benar-benar menempuh pendidikan formal di benua Eropa atau Amerika.

Saya pribadi masih punya angan-angan untuk bisa belajar psikoanalisis melalui pendidikan formal barat. Ada banyak faktor yang menjadikan saya belum berada pada pencapaian itu, namun demikian beragam kegagalan itu membawa saya pada suatu pemahaman baru mengenai berlapang dada.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat sangat marah dengan ekspektasi yang pernah saya buat sendiri, saking begitu banyak kegagalan yang mengantarkan pada perasaan bersalah pada orang tua atas rencana pencapaian yang tak kunjung terlaksana, hingga suatu situasi yang mengarah pada keterasingan diri. Begitu naif sebetulnya untuk dijelaskan, tentang mengilhami sebuah proses dari sudut pandang seorang yang sedang gagal.

Betapapun teori-teori psikoanalisis pernah mengantarkan saya pada proses bertelanjang diri dengan cara bekerja dengan kesakitan dan melegitimasi penderitaan (working through the pain and legitimate suffering), saya pun mengakui bahwa saya tak lebih dari seorang manusia biasa yang begitu gloomy saat begitu banyak penolakan aplikasi beasiswa mendarat di kotak surat. Betapapun saya pernah mengerjakan skripsi yang cukup nyentrik tentang kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada, saya tetap menangis kencang di pundak ayahanda saat ada perasaan tak terbalaskan melalui ungkapan kejujuran pada seorang pria.

Sebagaimana kata Anne Lamott dalam sesi TED nya yang berjudul 12 truth I learned from Life and Writing, poin pertama dia berkata bahwa semua kebenaran itu bersifat paradoks. Diiringi sebuah lagu While My Guitar Gently Wheeps karya George Harrison yang dinyanyikan ulang oleh Eric Clapton dalam sebuah konser, saya akhirnya berani untuk menghadiri kebenaran itu. Bahwa berani hidup dalam realita yang terkadang mengandung kepahitan, adalah sebenar-benarnya cara hidup yang lapang. Sekalipun suatu kegagalan harus diilhami melalui bait-bait kemarahan, rima kesedihan dan melabeli diri sebagai seorang pecundang, tetapi barangkali itu merupakan wujud fase yang perlu dilalui untuk meneropong kebenaran itu sendiri.

Pada akhirnya episode tentang dualisme, semacam pertentangan antara harga diri dan kepecundangan, atau kesuksesan dan kegagalan, adalah bagian dari kesadaran masa muda dalam arus suatu kehidupan. Saya tak pernah benar-benar tahu kemana arah muara yang menjadi pangkal pencarian. Sama halnya dengan tak semua orang juga tak benar-benar bisa menerka bagaimana bumi berevolusi, bagaimana hari-hari seorang pelaut adalah berisi pertanyaan tentang kemana arah kemudi layar perahu.

Saat segala keresahan menerkam atas pertanyaan-pertanyaan yang mewakili tuntutan sosial berada, saya merasa tercerahkan atas nasehat Freud melalui karyanya yang berjudul Totem & Tabu. Freud menasehatkan bahwa sesungguhnya akar psikopatologi adalah omnipotensi (kemahakuasaan) pikiran. Kemahakuasaan pikiran adalah suatu bencana terdahsyat yang dapat manusia buat, dalam praktiknya, hal tersebut serupa pembunuhan terhadap kemungkinan lain, alias menjadi Tuhan untuk menentukan jalan masa depan yang masih rahasia. Di situlah kemudian saya melihat sisi spiritualitas Freud se-dinamis seperti teori psikoanalisis-nya.

Tentulah, saya sebagai manusia biasa hanya dapat berlapang saat situasi menggiring pada nasib dan takdir yang tidak sesuai rencana. Lantas saya kembali menjadi paradoks. Bahwa penerimaan diri itu juga bisa menjadi suatu kepasrahan atau mungkin juga kondisi menyerah. Entahlah, kecamuk batin itu adalah wujud dari dunia subyektif yang saling merespon satu sama lain. Sedalam-dalamnya penggalian alam bawah sadar, Ia tak pernah benar-benar berhenti di suatu akar, ia selalu punya muara yang mengundang perjalanan lain, pengembaraan terhadap penerawangan yang jauh ke belakang.

***

Samar-samar suara seorang tua terngiang dalam telinga saya “…. kecamuk batinmu itu adalah wujud dari dunia subyektif yang saling merespon satu sama lain”. Si tua itu hanya beranjak dari meja kerjanya dan kemudian menghirup dalam-dalam cerutu di tangan kirinya. “Sebaiknya kita akhiri saja sesi terapi kali ini. Kamu terlihat cukup lelah. Penerawanganmu terlalu jauh ke belakang.

Sekitaran Juni 2017

One thought on “Bagaimana Rupa Rasa Lapang

Leave a Reply