Monumen Ketidakpastian

Ada orang-orang yang berani menghadapi kenyataan, bahwa segala hal selalu terdiri dari dua sisi berkebalikan, beserta abu-abu yang membungkusnya sedemikian rapi. Tapi ada pula orang-orang yang tak cukup sanggup tenggelam dalam hingar bingar realita yang naif, mereka memilih membuat dunia dalam kepalanya sendiri hingga menjadi suatu cara pandang baru dalam menafsir kehidupan.

Pada tulisan kali ini, saya hendak membicarakan tentang manusia di kelompok kedua, mereka adalah termasuk pada orang-orang yang ketakutan, seringkali korban traumatik atas sesuatu yang berbau tentang cinta, hingga jati diri ketakutan itu menyublim menjadi suatu kenikmatan, lalu berujung pada penyimpangan sosial. Meskipun bicara mengenai penyimpangan hanyalah soal kuantitas, rupanya manusia yang berada di golongan kedua itu sedang menciptakan fenomenanya sendiri.

Agaknya mereka memang harus menghidupi cerita di dalam kepala, tapi juga mustahil bermain cerita dalam imajinasi seorang diri. Oleh sebab itu, para pengelana ilusi itu, lantas membangun sebuah kisah imajiner yang meminjam orang-orang nyata di sekitar sebagai objek untuk dimainkan dalam suatu episode drama yang menawarkan berbagai macam rasa, baik itu balada atau kisah sejarah.

Tetapi terjebak dalam ilusi berkepanjangan sangatlah menyiksa. Kita bisa bayangkan bersama, bagaimana rasa sakit atas cinta yang mungkin belum berjumpa dengan muaranya, menjadi sesuatu yang menggejala, akut dan parah. Semakin bertambah duka oleh segala luka yang mengurat dan tertanam begitu dalam, hingga akhirnya tiada pilihan lain selain menikmati sembari menunggu segalanya mereda seperti sedia kala.

Tanpa disangka menikmati luka itu sangatlah mengasyikkan, lantas kemudian mereka semakin terasing oleh kehidupan karena sudi menjebakkan diri pada serpihan masa yang telah lampau. Seperti tiba-tiba terkunci dalam sebuah goa yang pintunya tidak dapat diketemukan, maka jalan keluar hanyalah menyusuri setapaknya yang panjang, kelam, bersuhu dingin, hanya jejak-jejak kaki kecil serangga yang melangkah tanpa suaralah menjadi teman untuk menyelesaikan perjalanan.

Betapa kesendirian adalah tempurung hangat bagi rasa yang tak akan pernah pudar kecuali ditelan kematian. Kegagalan cinta selalu meninggalkan rasa, ia tak bisa musnah karena ia adalah energi yang hanya dapat pergi jika berpindah dari satu bayangan ke bayangan yang lain. Itu artinya menjalin sebuah hubungan bukan untuk tujuan yang nyata di masa depan, melainkan hanya demi menghidupkan imajinasi atas ketidakmampuan menghadapi kenyataan seorang diri. Pada akhirnya mekanisme ini hanyalah sebatas pelarian dan perwujudan penghindaran yang akan menjadi sangat melelahkan.

Kalaupun berkelana pada banyak hati, mereka akan tetap meninggalkan bekas, setidaknya sebagai koleksi monumen, alih-alih agak sangsi jika disebut sebagai prestasi. Minimal ada lagu yang saling memproyeksikan tentang pengalaman bersama si dia, atau mungkin buku, juga film, semua itu hanya sebagai sarana untuk menikmati kenangan kembali, yang mungkin digubah dalam kepala sedemikian indah agar dapat memproduksi rasa senang ketika di proyeksikan pada layar lamunan. Akan tetapi, inilah sebenar-benarnya wujud pengingkaran diri pada kenyataan yang menumbangkan sepi di udara sore hari.

Begitulah si manusia dalam golongan kedua, akan menjadi seorang penunggu. Tetapi bukan sesosok maupun situasi yang sedang dinanti. Ia menunggu wujud pertemuan dengan dirinya sendiri untuk berbincang tentang apa yang belum usai, mengenai hal ihwal yang bukan berasal dari luar dirinya. Mengingat, memindahkan rasa pada satu sosok menuju sosok yang lain bukanlah sebuah solusi atas kehampaan hati yang kian murung oleh gemuruh angin kerinduan. Ia tetap terjadi suatu badai di dalam jiwa tatkala kegetiran belum tuntas tergerai pada payung langit yang menengadah diantara semesta, sementara jiwa hendak tertidur menemui mimpi buruk seumpama bertemu ruh paling menakutkan di jagat raya.

Namun konflik masih belum usai, manakala tuntutan untuk beradaptasi dengan dunia luar masih perlu dijembatani untuk menjadi manusia yang tampak normal dan bermoral. Berbagai macam pertaruangan hebat dalam diri harus disembunyikan agar upaya bersandiwara bisa muncul, sementara di dalam kepala masih terputar ilusi yang tentulah sangat berbeda dari kenyataan di hadapan mata.

Maka kelelahan adalah jalan tearkhir untuk tetap bertahan hidup, sebelum semuanya mati terhunus oleh amarah yang entah akan berwujud apa. Satu-satunya cara adalah membunuh ilusi dan bayangan segala perasaan suka dan luka itu yang sudah berbaur menjadi getir dalam diri. Kemungkinan ini akan menjadikan guncangan hebat seumpama kiamat dalam kepala, serta paling tidak tubuh harus menjalani anestesi untuk sementara. Tentu saja ini akan menjadi proses yang menyakitkan, membunuh ilusi yang sudah sekian lama menemani, tapi jika tak kunjung beranjak dari romantika kesepian, itulah akhirnya mengapa seorang yang patah hati begitu betah mengukir kesendirian.

Demikianlah si patah hati akan selalu menciptakan siklus ilusi sebagai cara bertahan hidup dari reruntuhan ingatan kepedihan di musim kemarau,sembari menanti air hujan yang terhenti di atas kemelut kahyangan. Maka demi menyeimbangkan kehidupan di muka bumi, mereka tetap rela berperan sebagai penghuni ketidakpastian, dan di situlah letak sebenar-benarnya pengorbanan.

Sekitaran April 2017

 

 

Leave a Reply