Saat aku terisak-isak pada pundak Ayah setahun yang lalu, menangisi kebuntuan dan segala macam bentuk kegagalan, beliau hanya berpesan “nduk, pintar itu bukan hanya pikiran dan kemampuan, tapi juga perasaan” katanya sambil ngusuk-ngusuk ubun-ubunku. Dan hanya di pundaknya, aku mampu menangisi segala hal dengan begitu lapang.

Leave a Reply