Resensi Buku: Peran Paradigma dalam Revolusi Sains

Judul                        : The Structure of Scientific Revolutions: Peran Paradigma dalam Revolusi Sains

Penulis                   : Thomas S. Kuhn

Penerjemah            : Tun Surjaman

Editor                    : Prof. Dr. Lili Rasjidi, S.H., L.LM.

Penerbit                 : PT Remaja Rosdakarya

Tahun Cetak          : Cetakan Ketujuh, September 2012

ISBN                     : 979-514218-6

Jumlah Halaman    : xvi + 205

Buku ini adalah sebuah perjalanan kumpulan pemikiran Thomas S. Kuhn tetang sejarah sains yang mengakomodir ide transformasi konsepsi sifat kemajuan sains dari periode pra paradigma hingga pasca paradigma. Sebagaimana yang diuraikan oleh Kuhn di suatu pertengahan bab bukunya, bahwa pengertian paradigma mengacu pada riset ilmiah atau riset sains, yang kemudian dijabarkan perannya pada konstelasi perspektif historis masyarakat yang menjalaninya. Dua konsep besar yang menjadi bahasan utama pada buku ini (sains yang normal dan paradigma) tidak sedang dipertentangkan atau diperbandingkan secara skeptis, melainkan lebih kepada proses elaborasi yang mengurai hubungan dan persinggungan antar keduanya, hingga tercipta sebuah dokumen sejarah revolusi sains.

Secara terperinci, uraian pada resensi ini akan berfokus pada ulasan ide transformasi revolusi sains mulai dari proses identifikasi sains yang normal dan paradigma, episode revolusi sains, meninjau sifat-sifat revolusi sains, dan implikasi riset sains menghadapi realitas kemajuan sains itu sendiri.

Identifikasi Sains yang Normal & Paradigma

Pada bab awal, Thomas Kuhn memulai dengan penjabaran antara ‘sains yang normal’ dan paradigma sebagai suatu pengantar untuk dapat memasuki ulasan perjalanan transformasi pikiran dalam sejarah sains. Sebagaimana yang diungkapkan Kuhn , ‘sains yang normal adalah riset yang teguh berdasar atau satu atau lebih pencapaian ilmiah yang lalu’. Sementara itu, yang dimaksud paradigma mengacu pada pemuatan dua kriteria utama yaitu pencapaian yang baru dan bersifat cukup terbuka dalam suatu aturan riset ilmiah. Kedua istilah tersebut saling berkaitan satu sama lain. Paradigma menuntut suatu kondisi spesialisasi dan kategorisasi dengan tujuan untuk menyiapkan anggotanya memasuki masyarakat ilmiah tertentu dengan output yang lebih praktis.

Beberapa uraian Kuhn tentang paradigma menekankan adanya komitmen professional dan mengilustrasikannya pada contoh-contoh objek alam seperti fisika, biologi, optik, listrik dan gelombang. Pengamatan tersebut membawa bahasan awal tentang paradigma yang memuat pola bagaimana paradigma berkembang melalui penciptaan aliran-aliran, hingga menciptakan sebuah pola untuk melahirkan sebuah kebenaran dengan cara mengungkap kesalahan-kesalahan yang dapat teridentifikasi.

Berangkat dari istilah yang lebih mapan, paradigma adalah model atau pola yang diterima, dan aspek maknanya itu telah memungkinkan untuk menempatkan sebuah kepentingan di dalamnya. Kelebihan paradigma di dalam perkembangan revolusi sains adalah penawaran terhadap suatu frame yang berisi kaidah-kaidah sehingga dapat dirujuk sebagai suatu cara pandang. Sementara itu, kekurangan paradigma yang diungkap pada buku Thomas S. Kuhn ini adalah merujuk pada keterbatasan pemilihan persoalan yang wajar, tanpa melihat rasionalisasi dan ruang sosial dimana permasalahan itu berakar. Pada satu titik yang lain, paradigma memaksa ketika terdapat alam masuk ke dalam kotak yang telah dibentuk lebih dulu dan relatif tidak fleksibel.

Episode Revolusi Sains

Sementara itu, paradigma menawarkan suatu frame yang lengkap dengan kaidah-kaidah untuk suatu pengujian, serta sebagai suatu cara pandang yang mengakibatkan bergeraknya revolusi sains. Sementara itu, cara pandang tersebut juga memengaruhi apa-apa yang tertera pada tradisi buku teks lengkap dengan cakupan persoalan yang diangkat oleh suatu objek paradigma. Mulanya, penemuan sains itu dilandasi oleh kesadaran dan persepsi terhadap anomali, akan tetapi anomali dari gejala itu tidak dipersiapkan oleh paradigma hingga memunculkan krisis yang menstimulus perkembangan teori. Selanjutnya, tercipta siklus koreksi terhadap suatu kegagalan teori dan upaya merekonstruksi kembali konsep-konsep pada teori tersebut.

Paradigma dan sains sama-sama punya peran untuk mengurai anatomi suatu keadaan krisis, merekonstruksi bidang yang fundamental dan menyusun ulang kerangka dari bangunan sebelumnya. Dengan demikian, anomali memiliki fungsi untuk membawa posisi ekuivalen terhadap revolusi dan peristiwa istimewa, sehingga sains yang normal memiliki kecenderungan untuk bergantung pada eksistensi semua komponen dalam revolusi sains.

Meninjau Sifat-sifat Revolusi Sains

Perubahan paradigma atau disebut dengan revolusi menghasilkan seperangkat baru masalah dan standar. Terdapat ciri-ciri sifat revolusi sains yang dijabarkan sebagai berikut: perselisihan revolusioner berakar pada modus-modus kehidupan yang masyarakat yang bertentangan, berujung pada kesepaktan yang tidak pernah bisa diselesaikan dengan logika dan eksperimental, keleluasaan ilmuwan untuk memilih masalah dan mampu merancang teknik-teknik konseptal dan instrumental sebagai pemecahan masalah, tumbuhnya suatu kesadaran yang melatarbelakangi terjadinya krisis. Sifat-sifat revolusi sains itu membawa pada pandangan perubahan dunia ilmuwan menuju transformasi kualitatif. Kemudian, reevolusi sebagai perubahan pandangan atas dunia merupakan rekonstruksi dari teori sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan pandangan sains sebagai kumulasi yang terjadi sebagai epistemologi dan konstruksi yang ditempatkan di atas data-data indera yang mentah oleh pikiran.

Munculnya sebuah konflik dalam perkembangan sains, didasari oleh asimilasi semua teori baru dan persaingan aliran-aliran pemikiran sains. Sebagai contoh, Psikologi memberikan banyak bukti perubahan paradigma yang diturunkan dari keragu-raguan, diperkuat oleh bahasa pengamatan yang akutal. Dengan demikian, pengalaman ilmuwan memainkan peranan penting untuk mencari definisi, sekalipun mencocokkan alam dengan paradigma itu merupakan hal yang sukar. Itulah sebabnya mengapa teka-teki sains yang normal itu begitu menantang dan juga mengapa pengukuran-pengukuran yang dilakukan tanpa paradigma begitu jarang membawa kepada kesimpulan apapun.

Implikasi Riset Sains menghadapi Realitas Kemajuan Sains

Betapa perlunya menulis ulang buku teks setelah revolusi sains dan mengelaborasi revolusinyna sebagai suatu cara untuk melestarikan wahana pedagogis. Hal ini melibatkan kesadaran dan pelaku sejarah pada sains untuk membentuk sebuah lintasan yang sifatnya lebih menyeluruh dan tidak parsial memotret suatu bagian sejarah. Permulaan rekonstruksi sejarah sains pascarevolusi barangkali menghasilkan penyimpangan konstruksi yang mengakibatkan revolusi menjadi tidak nampak. Jika ditinjau awal mula kegiatan sains dan penyajian teks, para ilmuwan telah berupaya untuk memecahkan masalah yang terwujud pada paradigma-paradigma hari ini. Dalam bab selanjutnya, diutarakan bahwa peran pekerja riset adalah pemecah teka-teki, bukan penguji paradigma. Adapun yang berhasil membangkitkan persaingan bagi paradigma yang ada diperkenalkan oleh Carl Popper melalui pengajuan falsifikasi untuk menguji suatu teori.

Secara kritis kumpulan esai Thomas S. Kuhn menyajikan jawaban menyangkut kriteria dan definisi sains yang mencoba mengkomparasikan wujud keberhasilan kemajuan antara ilmu alam (seperti fisika) dengan ilmu sosial sains. Pertanyaan yang terbangun dari hadirnya pandangan esensial dan evolusi pada sejarah tubuh sains mengacu pada kecenderungan setiap bidang yang ditandai dengan kemajuan sebagai sains. Adanya proses pembedahan sejarah ilmu sains itu juga menstimulus suatu pemikiran tentang peran masyarakat sains yang mengisolasi dirinya dari masyarakat biasa, sehingga tercipta suatu jurang yang menjauhkan dari kesadaran terhadap anomali-anomali dengan konstruksi pemecahan teka-teki yang mungkin naif. Selanjutnya, apa yang disebut kebenaran menjadi begitu jauh dari konsesi-konsesi kesepkatan ilmiah karena hanya berlaku di ruang sempit pengujian.

Refleksi: Muatan Kelebihan & Kekuarangan

Sepanjang membaca buku ini, terdapat beberapa ide yang muncul dalam kaitannya dengan peran penulis resensi yang sedang menempuh pendidikan master dan bertujuan untuk menjadi pekerja riset di bidang ilmu Psikologi. Secara personal, penulis resensi melihat bahwa terdapat beberapa poin penting yang menjadi refleksi terhdap perkembangan sains hari ini.

Esai-esai Thomas S. Kuhn ini merupakan suatu upaya untuk memotret perjalanan sains atau ilmu pengetahuan berdasarkan sejarah keberhasilan ilmu-ilmu alam seperti fisika, biologi, kelistrikan, dan lain sebagainya, serta dinamika pergeseran-pergeseran ilmu alam tersebut akibat persinggungan konstelasi teori pada masyarakat sains. Jika mampu diibaratkan, sains yang normal itu bagaikan sebuah semesta atau bejana yang menampung berbagai macam paradigma, yakni deskripsi lintas ruang dan waktu untuk mengelaborasi penemuan dan pergerakan dari paradigma tradisional menuju paradigma revolusioner. Pemikiran Thomas S. Kuhn tentang peran paradigma yang memiliki peran utama terhadap revolusi sains mengandung muatan penjelasan yang detail serta mencerminkan kemampuan abstraksi yang tajam. Penelusuran sejarah sains tersebut memberikan suatu stimulus tentang bagaimana definisi dan peran paradigma pada perkembangan sains hari ini dapat menunjukkan kemajuan yang revolusioner.

Adapun kekurangan dari isi pokok buku ini mengacu ilmu pengetahuan yang bersifat sosial atau kontemporer yang tidak disajikan secara proporsional. Sekalipun penulis resensi mencoba memahami serangkaian sejarah yang dipaparkan adalah menuju pembentukan paradigma yang tidak terisolasi dari suatu masyarakat biasa, akan tetapi kelahiran paradigma yang diajukan, membutuhkan konsepsi pengetahuan awal agar dapat dipahami konteksnya dan dimaknai secara komprehensif pada kaitannya dengan perkembangan paradigma dan revolusi sains yang telah terjadi.

Refleksi yang dapat diejawantahkan dari serangkaian menulis resensi buku Thomas S. Kuhn ini adalah mengenai perabaan terhadap kesadaran di balik paradigma-paradigma yang berkembang sepanjang revolusi ilmu sains. Buku ini mengasilkan sebuah kritik yang mengantarkan pada kedewasaan peran ilmu sains untuk dapat menjadi pemecah teka-teki persoalan yang hadir di hamparan semenanjung realitas.

Leave a Reply