Mengurai Hierarki & Iklim Berkarya Generasi Milenial di Kota Malang*

Sebelum memulai pada suatu pembicaraan yang mencerminkan judul tulisan, perlu saya jabarkan terlebih dahulu, bahwa tulisan yang hendak saya hadirkan mungkin analisisnya masih parsial, dangkal cum mbulet, karena didasarkan oleh pengalaman pribadi yang hanya beberapa tahun berorganisasi dan bergiat pada bidang kreatif. Perlu diketahui juga, dalam jangka beberapa tahun yang belum seberapa itu, secara pribadi penulis juga mengalami tahap transisi perkembangan pikiran dan jati diri fase sebagai anak muda, sehingga kiranya apa yang terejawantahkan melalui tulisan ini masihlah berupa reremahan mozaik, bukan suatu hasil akhir kesimpulan yang menentukan nasib situasi seseorang atau kelompok seniman.

Mulanya, ada sebuah kesan mendalam yang terbawa hingga saat ini, terutama ketika saya cukup intens bersinggungan dengan kegiatan berkarya baik dalam medium kepenulisan maupun seni pertunjukan di kota Malang, kesan itu adalah berupa perasaan insecure saat menghajati karya sendiri. Saya tidak tahu, apakah perasaan insecure (dalam term yang lebih sederhana disebut ketidakamanan diri disebabkan oleh perasaan inferior) itu adalah sebuah gejala yang hanya saya rasakan seorang diri, ataukah juga bagian dari problem generasi yang memicu fenomena bunuh diri karakter dalam tajuk representasi zaman.

Belakangan ketika saya sudah berjarak dari kota Malang dan segala pesta dan euforia di dalamnya, saya kembali merefleksi melalui ingatan atas forum diskusi dan ruang pertunjukan yang pernah saya hadiri, interaksi dan persinggungan yang terukir baik secara kontak personal, opini terbuka di kolom komentar Facebook hingga ketergabungan saya sebagai silent reader di beberapa grup Whatsapp yang berlabel aktivitas kesenian dan kreativitas di kota Malang.

Rupa-rupanya setangkapan kesan tersebut dapat ditelusuri dari beberapa prediktor sederhana, seperti pola relasi dan penelusuran dari mana datangnya krisis-krisis itu melanda. Kemudian, saya mencoba mengamati, seperti apa pola relasi yang tersimulasi oleh event-event kolaborasi lintas generasi di berbagai kegiatan berlatar seni, sastra dan budaya. Adapun relasi yang terlihat itu barangkali tidak ada hubungannya dengan seluk beluk dapur kreatif, tapi menjadi suatu faktor yang begitu signifikan untuk mengonstruksi mental produktivitas generasi saya, yakni generasi milenial yang berkarya di kota Malang.

Mendapatkan Pengakuan dari Generasi Sebelumnya

Saya secara pribadi beberapa kali mendengar bagaimana pekerja seni pertunjukan dulunya, hidup dalam suatu pola yang begitu hierarkis, identik dengan senioritas iklim orde baru yang represif, sehingga situasi tersebut mengharuskan lahirnya militansi dan bersedia bersusah payah menuju titik eksistensi mahakarya, yang kerap kali dipertaruhkan juga dengan nyawa. Militansi itu membentuk suatu standar pengakuan sebagai simbol yang berkaitan dengan cerminan harga diri. Entah benar atau hanya mitos belaka, bahwa format relasi dan pewarisan gagasan akhirnya harus dikonfirmasi oleh suatu standar yang dianut pada generasi pendahulu, dan materi pewarisan mau tidak mau terdistribusi melalui lanskap hierarki yang mungkin kental dengan nuansa feodal.

Di lain waktu, pernah juga saya mendengar dari perspektif yang lebih heroik, pada bidang musik misalnya, bahwa justru di kota Malang adalah rahim para singa pemberontak yang  berenang ke permukaan untuk menunjukkan suara gahar sebagai sikap merespon keterbatasan dan ketertindasan oleh suatu periode kekuasaan. Tak heran, produk-produk karya yang dihasilkan begitu mengesankan dan lagi-lagi menjadi suatu standar yang musti diraih oleh generasi-generasi sesudahnya. Hingga mekanisme mendapatkan pengakuan itu menetapkan tolak ukur pembanding yang begitu tinggi dan hanya menyisakan krisis identitas tak berkesudahan.

Anggaplah memang generasi pembaru belum memenuhi ekspektasi generasi sebelumnya, maka betapa kedaulatan berkarya itu masih jauh dari wacana ekosistem suportif yang hendak diwujudkan di kemudian hari. Sungguh saya menyadari, betapa blurnya wacana pola relasi antar generasi yang kemudian diwariskan di jaman kini, terutama tentang bagaimana mekanisme pengakuan sebuah karya ditentukan oleh standar tunggal dan belum bisa beranjak dari penilaian generasi pendahulu. Hal ini tentu perlu diungkap lebih jauh sebagai proses konfirmasi melalui teorema analisis yang lebih bisa dipertanggungjawabkan, sehingga dapat menjelaskan fenoma krisis identitas pada penggagas karya pada generasi saat ini.

Menelusuri Bentuk Krisis Identitas Masa Kini

Saya tak hendak menghadirkan sebuah skup wacana baru di dalam tulisan ini, tetapi asumsi saya pada paragraf sebelumnya mengantarkan pada satu hal yang ingin saya bicarakan: yaitu bentuk-bentuk krisis yang muncul dan kerap diperbandingkan. Saya kembali terpental saat menghadiri perhelatan forum-forum yang membingkai ruang persinggungan antar jenis kelompok dan generasi yang bervariasi.

Pada diskusi pentas teater misalnya, beberapa motif interaksi yang muncul seringkali berbentuk evaluasi, komentar, masukan dan bahkan mungkin cercaan oleh generasi yang lebih senior atas karya yang baru saja disajikan. Di luar penilaian objektif terhadap sebuah karya yang disajikan,  proses evaluasi dari sosok yang sudah diakui oleh suatu generasi tersebut, membawa kultur turun temurun yang kemudian diadopsi sebagai cara penghakiman massal. Sering kali respon terhadap suatu karya hanya mengekspresikan kekecewaan dan ungkapan tidak puas dari sebuah standar ekspektasi, tanpa memberikan keseimbangan wacana bagi para pembelajar. Mungkin apa-apa yang saya contohkan sangat kontekstual, tidak terjadi di semua forum yang ada, tapi persoalan krisis yang disebabkan oleh pola relasional ini dapat dikategorikan sebagai problem kultural yang bersifat turun temurun, kemudian sadar tidak sadar membentuk perilaku destruktif pada format relasi yang berulang: penciptaan ruang diskursus yang jauh dari kesan egaliter dan mendukung anomali yang tidak evokatif.

Entah dilakukan secara sadar atau tidak sadar, interaksi dan proses saling silang informasi dalam balutan cercaan itu mungkin sudah tidak sesuai dengan hukum-hukum dimensi generasi milenial. Alih-alih mengibarkan bendera militansi, respon generasi milenial mungkin justru menampakkan mekanisme defensif dengan menghindari resistensi. Kini tak jarang kita jumpai betapa generasi milenial punya problem serius mengenai komitmen terhadap suatu keterlibatan. Oleh sebab demikian, wacana mengenai krisis yang hadir dan muncul dalam suatu generasi itu perlu dilihat dengan seksama dan dipahami kelahirannya agar dapat memproduksi wahana komunikasi dan respon yang relevan, agar semakin tidak tercipta jurang yang terlalu menganga dalam pola relasi dan interaksi antar generasi.

Penutup

Barangkali hal ihwal itulah yang menjadi komposisi (dari sekian banyak lainnya yang ada) iklim berkarya saat ini, yakni berada dalam ruang dan waktu yang beku oleh ketidakberdayaan mengurai konflik-konflik batin di sekitar kita. Adapun urgensi yang perlu dibangun seyogyanya dapat menumbuhkan arena yang lebih supportif untuk memupuk gairah berkarya pada suasana kesetaraan. Ini adalah gejala yang kompleks terjadi mungkin di semua lini kehidupan, namun perlu kita sadari bahwa medium persoalan membangun ketahanan mental ini berada di antara dua irisan situasi: antara tradisi dan kegagapan terhadap akses yang serba cepat dan tidak terbatas. Fokus yang perlu dielaborasi adalah bagaimana menciptakan sebuah keberanian dan kesadaran untuk bersedia mengurai krisis yang terjadi pada diri sendiri, dan di saat yang bersamaan tetap harus memupuk rasa hormat dan attitude yang baik pada generasi-generasi pendahulu.

Saya menyadari betapa abstraknya apa yang saya bicarakan barusan, mungkin jauh dari simulasi kerja praktis di atas panggung-panggung akrobat dan tidak ada sangkut pautnya di balik proses-proses latihan yang melelahkan. Keabstrakan ini adalah bagian dari suatu pendekatan untuk menghadirkan sudut pandang bahwa kegiatan berkarya bukan hanya sekedar memproduksi suatu bentuk hiburan, tapi menjadi bagian yang turut andil menentukan referensi zaman. Semoga menemani Anda yang sedang bersantai di sore hari bersama kopi atau teh hangat.

*Pertama kali diterbitkan di Lensa Teater

Leave a Reply