Apa yang Disebut Kehadiran Manusia*

Di tepi sebuah perbincangan tentang manusia dan peradaban masa kini, terasa begitu pongah—tentang keterhubungan—disekat-sekat oleh jarak yang memisahkan satu tebing realitas dengan tebing realitas manusia lainnya. Apa yang terekam pada memori zaman tentang hari ini adalah mengenai dua hal yang saling berlawanan: kemeriahan pesta sekaligus wujud keterasingan dalam waktu yang sama (ambivalen).

Ada banyak cara untuk mendefinisikan keberlangsungan kehidupan manusia, mulai dari pencitraan ragam peristiwa dalam nuansa fenomena, bisa juga melalui penafsiran para filsuf maupun ramalan para leluhur. Setidaknya, ilmu pengetahuan berkembang berdasarkan persinggungan antara realitas masyarakat dan pengujian teorema keyakinan para saintis & intelektual terkemuka. Maka, tidak mengherankan bahwa fase-fase perkembangan paradigma ilmu pengetahuan yang dijabarkan oleh Thomas S. Kuhn akhirnya mengantarkan kita pada satu titik revolusi ilmiah, yang mungkin tidak pernah kita duga dan bayangkan sebelumnya, yakni revolusi ilmiah yang mendefinisikan kehidupan dari cara pandang aspek performansi yang efektif dan efisien dalam bungkus ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada skema dan aturan main kehidupan yang didominasi oleh perangkat-perangkat di sekitar kita, tercipta lubang yang semakin menganga tentang kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk dinamis, yang termanifestasi oleh keterhubungan antara ruang dalam diri dan realitas di luar individu. Dominasi peran perangkat atau gawai di selingkaran kehidupan intim individu, mau tidak mau menyumbangkan berbagai perubahan secara disruptif di segala lini, khususnya pola relasi antar manusia yang juga memberikan kontribusi terhadap bagaimana konstruksi jiwa dan dinamika kepribadian manusia.

Saya mencoba berandai-andai, jika kita bercakap dalam ruang nirsadar, barangkali akan tersingkap begitu banyak akar problematik soal pemenuhan kebutuhan yang dilandasi oleh terisolasinya pendewasaan emosi, sedikit banyak dipengaruhi oleh intervensi teknologi yang makin berusaha menggantikan kehadiran manusia melalui berbagai skenario. Freud menegaskan bahwa jiwa manusia bisa pula sakit sebagaimana jasad,  jiwa merupakan medan pertempuran bagi insting dan nurani, medan pertempuran bagi keinginan dan represi (Rachel Baker, 2018). Sehingga, betapapun meriahnya pesta-pesta peluncuran roket ke luar angkasa, dan begitu mengesankan temuan-temuan para ahli yang menawarkan banyak kecanggihan, agaknya euforia itu begitu jauh dari perhatian terhdap kondisi ruang dalam manusia.

Jika kita mencoba membaca metanarasi postmodernisme yang lebih luas, pembicaraan tentang jiwa adalah sebentuk wacana yang menyingkap tabir kritik terhadap kecacatan kehidupan sosial. Maka, apa yang disebut dengan jiwa dan keterhubungan dengan kehidupan sosial, tidak lain adalah sebuah upaya memaknai kehadiran dengan mengutamakan kesadaran mendalam terhadap diri sendiri. Apa yang disebut kehadiran manusia adalah bertali-talinya empati yang menghubungkan ruang  antar realitas yang melahirkan pemahaman satu sama lain.

Intervensi teknologi dan disrupsi inovasi mungkin memengaruhi terjadinya gejala-gejala perilaku abnormal masa kini, tetapi kita mungkin masih bisa mengendalikannya dengan cara menghadiri diri sendiri dan menjelajah kesadaran lewat berbagai ekspresi, demi menjaga gawang kewarasan sekaligus merawat relasi antar personal menuju sisa-sisa penghayatan terhadap sang waktu.

Referensi:

Baker, Rachel. 2018. Sigmund Freud: Menyebrang Masa Lalu. Yogyakarta: Sketsa

Muntasyir, Rizal & Misnal Munir. 2008. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

*Ditulis untuk Pesta Seni 5

Leave a Reply