Analisis Kelompok Rokateater Berdasarkan Teori Identitas Sosial*

Yogyakarta adalah sebuah kota yang identik dengan unsur kebudayaan dan kesenian yang bersumber dari hasil oleh cipta, rasa dan karsa khazanah tradisi dan cara hidup yang melekat pada kehidupan sehari-hari. Hal tersebut didukung oleh berbagai macam kegiatan tahunan yang memfasilitasi para pegiat seni dan budaya di Yogyakarta untuk berpartisipasi di berbagai acara seperti Festival Kesenian Yogyakarta (FKY), Festival Lima Gunung (FLG), Art Jog, Bienalle Jogja dan lain sebagainya.

Salah satu produk kesenian yang berkembang di Yogyakarta adalah seni pertunjukan teater baik bersifat konvensional maupun kontemporer. Kelompok teater yang ada di Yogyakarta itu sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan format organisasi di bawah naungan lembaga formal seperti sekolah dan universitas, atau kelompok yang bersifat lebih independen menyerupai format komunitas terbuka.

Pada artikel ini, penulis akan memaparkan hasil observasi dan identifikasi sebuah kelompok teater independen di Yogyakarta yang bernama Rokateater, kemudian dielaborasi dengan perspektif teori identitas sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel. Melalui temuan yang telah dikumpulkan dari serangkaian wawancara, observasi terlibat pada proses kreatif dan menonton beberapa produk pertunjukan Rokateater di kanal Youtube, penulis mencoba untuk merefleksikan proses pembentukan identitas sosial dan dinamika kelompok pada tingkat personal maupun komunal.

Temuan Lapangan

Rokateater adalah sebuah kelompok kesenian yang dibentuk pada 28 Oktober 2016 dan diinisasi oleh Shohifur Ridho’i, pemuda asal Madura yang tengah menjalankan aktivitas sehari-harinya sebagai seorang pegiat literasi. Rokateater dibentuk dalam sebuah platform komunitas yang dimaksudkan sebagai wadah pertemuan seniman generasi kelahiran 1990-an. Benang merah dari segala aktivitas dan proyek Rokateater adalah untuk mempelajari isu di sekitar komunitas sosial anak muda yang terus menerus mengalami isu tentang ‘perubahan’ yang ‘cepat’ dan ‘segera’. Lepas dua tahun terakhir, Rokateater telah menghasilkan 8 proyek seni pertunjukan teater, yakni 5 diantaranya telah dipentaskan baik secara mandiri maupun didukung oleh sejumlah lembaga pemberi dana hibah.

Asal usul nama Rokateater merujuk konsep tradisi Rokat yang mencerminkan kehidupan dalam orientasi dua alam, yakni makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (diri sendiri). Filosofi Rokat tersebut termanisfestasi pada orientasi pergerakan kelompok kesenian yang menekankan proses berkontemplasi dan berpikir, hingga kemudian diproses secara kreatif dalam produk pertunjukan kontemporer dan eksperimental. Hal tersebut selaras dengan hasil obervasi terlibat pada tanggal 15 Oktober 2018 dalam sebuah kegiatan diskusi bernama Perforwhat, yakni adalah proses brainstorming yang difasilitasi oleh seorang penyaji wacana dengan tema tertentu untuk dikritisi dalam sebuah forum pertukaran wawasan. Rokateater kerap kali menampilkan sajian di atas panggung dengan bentuk pertunjukan yang mengeksplorasi beragam unsur seni pertunjukan seperti konsep, tema, alur, hingga yang sifatnya lebih praktis seperti tata cahaya, properti dan artistik. Deskripsi yang sedemikian rupa dapat menggambarkan idealisme Rokateater sebagai sebuah kelompok kreatif di Yogyakarta yang tidak sekedar memproduksi konten hiburan, melainkan menggunakan media seni pertunjukan sebagai ruang untuk mendokumentasikan pemikiran dan mengekspresikan wacana di hadapan publik.

Pola rekruitmen partisipan Rokateater menitikberatkan pada jaringan pertemanan, yang kemudian pembagian peran masing-masing partisipan dikategorisasi berdasarkan kebutuhan proyek, dan bidang keahlian yang ditekuni oleh partisipan seperti keahlian sebagai aktor atau performer, artistik panggung hingga dokumentasi visual. Merujuk pada interaksi pribadi penulis dengan partisipan Rokateater yang hadir saat Perforwhat, bahwa motivasi seniman yang tergabung pada proyek kelompok kreatif ini adalah lebih kepada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri yang menunjang proses kreatif masing-masing individu, bukan sekedar untuk menghabiskan waktu luang. Sehingga, pembentukan norma pada kelompok ini bersifat sangat cair, tidak tersekat oleh aturan formal yang tertulis, namun lebih ditentukan oleh komitmen yang terbungkus pada cara kerja yang disepakati oleh keterlibatan anggota pada proyek yang sedang dikerjakan. Akan tetapi, peran inisiator tetap esensial dan  memiliki porsi yang dominan untuk mengarahkan pergerakan dan aktivitas kelompok demi mencapai target-target pencapaian yang sudah dirumuskan.

Analisis Kelompok Rokateater berdasarkan Teori Identitas Sosial

Rokateater menjadi sebuah kelompok kreatif yang menarik untuk diurai dari sisi pembentukan identitas sosial di tengah berbagai macam bentuk kelompok kesenian yang ada di Yogyakarta. Setidaknya terdapat tiga tahapan proses mental dalam mengidentifikasi sebagai ‘kita’ dan ‘mereka’ (Tajfel & Turner, 1979). Tiga tahapan tersebut mencerminkan proses yang berurutan terdiri dari kategorisasi, identifikasi dan perbandingan.

Pada fase yang pertama, pembentukan kelompok yang disatukan oleh kesamaan visi dan misi dalam idealisme berkarya menjadi bagian dari proses penyamaan karakteristik individual. Tidak mengherankan, bahwa proses perekrutan anggota bukan melalui pengumuman perekrutan terbuka sebagaimana yang biasa terjadi pada kelompok kesenian di bawah naungan sekolah atau universitas, melainkan proses perekrutan anggota kelompok lebih menekankan pada kedekatan jejaring melalui mekanisme close recruitment. Pola interaksi yang terbangun dalam keseharian anggota Rokateater berbasis online melalui media Whatsapp untuk memenuhi fungsi komuniksi dan koordinasi. Adapun pertemuan tatap muka diagendakan ketika mendekati eksekusi proyek tertentu seperti agenda diskusi Perforwhat, riset di beberapa lokasi tertentu, hingga latihan fisik guna mempersiapkan suatu pertunjukan. Sehingga dapat diektahui bahwa aspek intergrup antarpribadi yang terjadi terus menerus tersebut telah menjadi peletak dasar kategorisasi sosial yang menentukan karakteristik perilaku dan setting grup pada tahap pembentukan identitas berikutnya.

Pada fase yang kedua, identifikasi sosial terbentuk disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya adalah perbedaan positif, kreativitas sosial dan mobilitas individu. Sebenarnya, format kelompok yang bersifat komunitas terbuka kian menjamur di tengah-tengah kehidupan modern dan kemudahan komunikasi yang memudahkan manusia dapat berkoordinasi lintas ruang dan waktu. Akan tetapi, tidak jarang pula kelangsungan hidup sebuah komunitas dengan format kelompok yang cair dan terbuka tersebut, terkadang hanya eksis dalam kurun waktu tertentu. Akan tetapi, sampai sejauh ini, Rokateater berhasil membentuk format kelompok yang tetap mempertahankan idenya sebagai ruang pertukaran ilmu dan gagasan, tanpa harus terikat pada problem-problem teknis dan struktural sebagaimana yang biasa ditemukan pada kelompok berformat konvensional.

Di sisi yang lain, anggota Rokateater mungkin dapat mengatur fleksibilitasnya dalam keterlibatan proyek Rokateater, tanpa harus meninggalkan identitas atau latar belakang yang telah dimilikinya sebelum tergabung dalam aktivitas Rokateter. Namun, resiko yang dapat diidentifikasi melalui skema keanggotaan yang sedemikian rupa adalah keterbatasan kuantitas sumber daya manusia, barangkali dapat memengaruhi laju progresivitas proyek yang sedang dijalankan. Maka, tidak mengherankan jika kesuksesan sebuah pertunjukan tidak ditentukan oleh lama durasi, melainkan lebih menekankan pada kualitas proses untuk menghasilkan gagasan yang menurut mereka layak dihadirkan di hadapan publik. Melalui aspek kekuatan perbedaan positif dan tantangan mobilitas individu lintas kelompok yang menjadi unsur pembentukan identifikasi sosial, membuat Rokateater menjadi leluasa mengeksplorasi kreativitas yang menunjang praktik keanggotaan maupun proses penciptaan suatu karya. Pada titik ini, anggota Rokateater menciptakan proses belongingness terhadap kelompok berdasarkan suatu fase proses kreatif yang telah dihasilkan sebagai suatu produk karya bersama.

Pada fase pembentukan identitas sosial yang ketiga, muncul perbandingan sosial di level outgroup kelompok. Output pertunjukan yang dihasilkan oleh Rokateater dapat dikatakan memiliki ciri khas yang berbeda dari kelompok teater pada umumnya. Penulis memandang bahwa keikutsertaan Rokateater di berbagai ajang kompetisi dana hibah adalah sebagai cara untuk membentuk keberlanjutan organisasi. Jika ditinjau dari perspektif level individu, penciptaan ingroup favouritism dalam suatu proyek pertunjukan adalah sebagai cara untuk mengikat komitmen individu dalam kerja-kerja kolaboratif, sehingga Rokateater tetap menjadi suatu kelompok kesenian yang eksis memproduksi gagasan dan wacana yang mengakomodir berbagai macam motif seperti kegelisahan atas suatu kondisi, keinginan untuk membuat suatu portofolio seni, maupun motif-motif praktis lainnya seperti pemenuhan aktualisasi diri dan pemenuhan fungsi ekonomi.

Penutup

Secara garis besar, pembentukan identitas sosial di level individu maupun kelompok telah memenuhi kriteria unsur-unsur mental yang dijelaskan oleh Tajfel. Akan tetapi, Rokateater tidak menampakkan kompetisi sosial yang bersifat destruktif, agresif atau bersifat menjatuhkan kompetitor, hal ini disebabkan oleh bidang Rokateater berada di wilayah kesenian dan kebudayaan yang jauh dari motif kekuasaan. Justru di era yang serba modern dengan kemudahan akses informasi, mengakibatkan sektor kesenian dan kebudayaan terdorong pada pola-pola kerja yang bersifat kolaboratif mengusung suatu tema atau pergerakan tertentu. Adapun ciri khas dari kerja kolaboratif di tingkat individu maupun kelompok akan didominasi oleh motif kerjasama yang setidaknya memiliki unsur simbiosis mutualisme, serta mendorong adanya kontribusi untuk mencapai transformasi sosial yang diinginkan.

Referensi

Hogg, et al. 2004. The Social Identity Perspective: Intergroup Relations, Self-Conception, and Small Group. SMALL GROUP RESEARCH, Vol. 35 No.3, page 246 – 247. DOI: 10.1177/1046496404263424

 

*Ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Kelompok & Perilaku Antar Kelompok

Leave a Reply