Orientasi Karir Millenial Ditinjau dari Self-Determination Theory*

Generasi millennial atau generasi Y yang dipopulerkan oleh sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe, merupakan suatu generasi yang memiliki perilaku khusus dan berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Ditinjau dari halaman Kominfo (2016) bahwa produk teknologi mengakomodir pergeseran perilaku generasi Y yang lahir di antara tahun 1980 hingga 1990an.

Perkembangan teknologi internet menjadi salah satu tonggak bergesernya orientasi karir, dari yang mempertimbangkan kebermaknaan aktivitas sebagai salah satu pertimbangan untuk memiliki suatu pekerjaan. Tidak mengherankan bahwa generasi millennial juga kerap disebut sebagai generasi kutu loncat pengubah gaya kerja, sebagaimana pernyataan Faridah Lim, country manager Jobstreet Indonesia, (dalam CNN Indonesia, 2016) bahwa kondisi pasar kerja saat ini dipengaruhi oleh karakter kutu loncat yang dimiliki oleh generasi millennial. Survey yang dilakukan oleh halaman Jobstreet menghasilkan 66% generasi Y gemar berpindah kerja kurang dari dua tahun. Akan tetapi, sisi positif dari karakter pekerja generasi millennial ini adalah sangat kreatif dan cepat belajar disebabkan oleh perkembangan teknologi yang memudahkan akses terhadap informasi, kreativitas dan inovasi.

Dominasi generasi millenial di berbagai sektor pekerjaan seperti teknologi, pangan dan hiburan, mencerminkan bahwa semakin banyak anak-anak muda terlibat dalam mementukan masa depan. Sebuah konsultan lifestyle community bernama Whiteboard Journal (2018) menjabarkan pola-pola kerja generasi Y yang menekankan adanya kebebasan, fleksibilitas, dan adanya kepemilikan atas pekerjaan mereka, sehingga tercipta produktivitas yang mempengaruhi kualitas pekerjaan mereka. Hal tersebut senada dengan sumber media massa seperti beritagar.id yang melihat orientasi karir generasi millenial dipengaruhi oleh motivasi intrinsik dalam bekerja yakni mengutamakan kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri.

Berdasarkan karakteristik generasi millenial, perkembangan teknologi dan internet, serta pola kerja yang secara general disebutkan sebagai pengantar tulisan, esai ini akan membahas tentang orientasi karir generasi millenial melalui bingkai self-determination theory, untuk meninjau konstruksi determinasi diri pada generasi millenial dalam mempertimbangkan karir dan masa depan.

Komponen dan Cara Kerja Self-Determination Theory

Teori determinasi diri berdasarkan Ryan & Deci (2001) merupakan proses integrasi antara motivasi intrinsik dan internalisasi nilai-nilai sikap, nilai dan proses regulasi emosi untuk membentuk tiga kebutuhan dasar manusia seperti kompetensi, otonomi dan keterkaitan. Teori ini menekankan suatu sudut pandang yang kritis pada pengalaman manusia dan makna dalam menentukan suatu aksi yang didukung oleh kondisi lingkungan.

Teori ini berkembang melalui lima mini teori yang membentuk semacam framework. Masing-masing mini teori tersebut diperkenalkan untuk menjelaskan suatu fenomena tertentu baik melalui penelitian eksperimental maupun lapangan pada faktor-faktor yang memengaruhi motivasi manusia dan fungsi optimal.

Analisis Self-Determination Theory pada Orientasi Karir Generasi Millenial

Realitas yang dihadapi oleh sebagian besar generasi millenial adalah kecepatan informasi yang terfasilitasi oleh berbagai macam platform digital, dan kemudian menciptakan interaksi-interaksi yang menembus batas waktu dan wilayah. Realitas generasi millenial yang sedemikian rupa berkontribusi pada pergeseran nilai-nilai pada masyarakat dan membentuk konteks sosial yang dipengaruhi oleh perkembangan dunia global. Di Indonesia, generasi millenial membawa perubahan nilai-nilai yang mengadopsi kecenderungan gaya hidup hedonis (Alvara Research Center, 2018) disebabkan oleh tingginya akses terhadap internet. Di samping berbagai macam problematika menyangkut etika dan moral, interaksi di media sosial dan perkembangan masif teknologi digital telah membawa generasi millenial pada suatu semangat perubahan yang progresif, yang digambarkan oleh Aziz (dalam Kompas.com, 2018) sebagai suatu generasi yang kaya akan semangat dan mampu menciptakan peluang dan membuka terobosan.

Cognitive Evaluation Theory merupakan salah satu kerangka teori determinasi diri yang dapat mengurai bagaimana konteks sosial generasi millenial dan interaksi antarpribadi dapat memfasilitasi atau justru merusak motivasi intrinsik seorang individu dalam menentukan suatu pilihan pekerjaan dan mempertimbangkan arah orientasi karir jangka panjang. Ditinjau dari pengertian motivasi intrinsik yang berkembang pada sebagian besar penelitian self-determination theory, bahwa motivasi intrinsik didefinisikan sebagai suatu dorongan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan pemenuhan kepentingan diri sendiri (Ryan, 2009). Kerangka teori ini menekankan bahwa pentingnya otonomi dan kompetensi untuk menentukan kualitas motivasi intrinsik yang mendorong individu untuk terlibat dalam suatu aktivitas atau komitmen.

Pada tema pengambilan keputusan seputar pekerjaan dan orientasi karir yang dibangun oleh generasi millenial, Cognitive Evaluation Theory dapat menjadi suatu penjelasan terhadap pemilihan opsi pilihan pekerjaan generasi millenial yang mementingkan kebebasan untuk mengembangkan kompetensi, serta mempertimbangkan kesejahteraan diri sendiri untuk menghasilkan suatu produktivitas yang berarti tidak hanya bagi pemenuhan tuntutan kerja, tapi juga bermakna bagi kehidupan pribadi.

Skema kehidupan digital yang semakin mengekspos keterbukaan informasi personal dan sosial, membuat generasi millenial mampu melihat potensi dan tantangan sesuai dengan ambisi pribadi, sehingga mengarahkan mereka untuk membuat suatu keputusan secara bebas, mandiri dan mempertimbangkan impresi atau kesan yang dikonstruksi oleh perkembangan trend dan gaya hidup. Sebagai contoh, dalam berbagai iklan komersil yang berkembang di berbagai media digital maupun konvensional, generasi millenial yang bekerja tanpa ikatan ruang dan waktu, tanpa suatu tekanan maupun tuntutan atasan, kerap kali diasosiasikan sebagai bagian dari kenikmatan hidup yang bernilai tinggi. Ekspresi implisit dalam berbagai iklan tersebut seolah merepresentasikan bahwa pilihan pekerjaan dapat menentukan tingkat kepuasan hidup seorang individu.

Dengan demikian, aspek-aspek determinasi diri seperti kebebasan, peningkatan kompetensi dan pertimbangan terhadap kondisi kesejahteraan pribadi, menjadi suatu pola utama dalam mengonstruksi pilihan pekerjaan dan pertimbangan orientasi karir generasi millenial.

Referensi

JS, P. (2019). 5 ciri kaum milenial dalam bekerja. Retrieved from https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/5-ciri-kaum-milenial-dalam-bekerja

Kompas Media. (2018). Media Sosial dan Semangat Millenial 4.0 Halaman 3 – Kompas.com. Retrieved from https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/07/112544326/media-sosial-dan-semangat-millenial-40?page=3

KOMINFO, P. (2019). Mengenal Generasi Millennial. Retrieved from https://www.kominfo.go.id/content/detail/8566/mengenal-generasi-millennial/0/sorotan_media

Priherdityo, E. (2019). Milenial, Generasi Kutu Loncat Pengubah Gaya Kerja. Retrieved from https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20161215174236-277-179907/milenial-generasi-kutu-loncat-pengubah-gaya-kerja

Ryan, R. (2009). Self‚Äźdetermination Theory and Wellbeing. Retrieved from http://www.bath.ac.uk/soc-pol/welldev/wed-new/network/research-review/Review_1_Ryan.pdf

Van Lange, P. A., Kruglanski, A. W. & Higgins, E. T. (2012). Handbook of theories of social psychology: volume 2 (Vols. 1-2). London: SAGE Publications Ltd doi: 10.4135/9781446249222

Whiteboard Journal. Melihat Kultur Kerja Baru Millennial РWhiteboard Journal. (2019). Retrieved from https://www.whiteboardjournal.com/ideas/human-interest/melihat-kultur-kerja-baru-milennial/ 

*Ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Teori-teori Psikologi Sosial

Leave a Reply