Tentang Saya

Hai, apa kabar?

Saya Mutia Husna Avezahra, lebih dikenal dengan nama pena Mutia Avezahra. Semenjak remaja, saya gemar mencurahkan segala perasaan saya melalui buku diari, beranjak dewasa saya mulai percaya diri menunjukkan pemikiran saya di khalayak luas melalui medium blogspot. Dan baru-baru ini saya menyelami ilmu psikoanalisis yang kemudian menjadi salah satu tajuk dalam perjalanan kepenulisan saya seiring dengan pengembaraan menuju usia hampir seperempat abad.

Apa yang membentuk saya saat ini berasal dari berupa-rupa pengalaman, sebagaimana kepada siapa saya diperjumpakan, juga pemaknaan apa yang lahir dari setiap pengamatan yang mengantarkan saya pada satu temuan kepada temuan berikutnya. Sehingga, apa yang dapat saya produksi melalui ruang ini, barangkali merupakan bagian dari proses olah hasrat penciptaan, yang tidak lain adalah sebuah proyeksi sudut pandang diri sendiri terhadap realitas dunia. Hingga pada titik ini, saya meyakini bahwa menulis bukan sekedar cara mengukir jejak, melainkan adalah suatu cara untuk merawat kesadaran, dimana karya dan pencapaian adalah bagian dari tanda, sejauh apa perjalanan telah membawa diri saya untuk dapat mengilhami suatu kehidupan.

Oleh sebab itu, barangkali cara pandang saya akan begitu personal sesuai dengan fase apa yang sedang saya alami. Sebagaimana anak perempuan pada umumnya, ada persoalan tentang asmara, pencapaian, perasaan, kegagalan, kebingungan, keriangan, dan segala hal lainnya yang berkelindan melebur tanpa sekat-sekat penamaan.

Kegiatan menulis dan meneliti seperti dua mata koin yang tidak terpisahkan. Hal tersebut tak ubahnya seperti kegiatan merekam dan upaya memahami situasi dalam rentang perjalanan kehidupan yang panjang. Sepenuh hati saya membuka ruang ini pada siapa saja yang ingin hadir dan terlibat dalam rupa kehangatan benih-benih pemikiran, gugatan dan umpatan atau sekedar harapan, bersama dengan seduhan teh hangat yang menghubungkan Saudara pada ragam imaji tentang masa kini, yang lampau dan yang tak terlihat nun jauh di sana.

Maka demikianlah sekapur sirih ini saya goreskan kepada pembaca sekalian. Betapa ini bukan sekedar babak baru perjalanan kepenulisan yang saya alami, melainkan adalah suatu kesadaran mendalam tentang apa selanjutnya yang kemudian dapat saya salurkan selain sebuah pemenuhan hasrat belaka. Yakni,  sebuah keterwujudan ide menjadi bentuk-bentuk yang lain, yang barangkali menjadi laju perahu seorang manusia yang sedang mengarungi samudra waktu.

Selamat menjelajah!